jump to navigation

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN LINGKARAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN PENDEKATAN INQUIRI PADA SISWA KELAS VIII SMP N I GRINGSING Januari 17, 2009

Posted by rokhyatihandayani in SKRIPSI.
Tags:
trackback

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

BAB I

PENDAHULUAN

phot01101

A. Latar Belakang

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari- hari. Akibatnya, ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoreris, akan tetapi mereka miskin aplikasi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Bab I Pasal 1 ayat 6, standar proses pendidikan adalah standar proses pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Selain standar proses pendidikan ada beberapa standar lain yang ditetapkan dalam standar nasional itu, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Munculnya penetapan standar- standar tersebut diatas karena dorongan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan yang selama ini jauh tertinggal oleh negara- negara lain.

Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, standar proses pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Oleh sebab bagaimanapun idealnya standar isi dan standar lulusan serta standar- standar lainnya, tanpa didukung oleh standar proses yang memadai, maka standar- standar tersebut tidak akan memiliki nilai apa- apa. Dalam konteks itulah standar proses pendidikan merupakan hal yang harus mendapat perhatian bagi pemerintah.

Dalam implementasi standar proses pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itu upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena kita yakin tidak semua tujuan bisa dicapai oleh hanya satu strategi tertentu.

Seorang pendidik akan memilih pendekatan pembelajaran agar tujuan belajar dapat tercapai secara efektif, efisien dan ekonomis. Efektif dalam arti semua potensi dapat dimanfaatkan, efektif dan ekonomis dalam arti hasil yang diperoleh sesuai dengan biaya yang dikeluarkan sehingga memungkinkan siswa untuk bergerak lebih lanjut.

Penggunaan pendekatan pembelajaran dalam menyajikan pelajaran sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi akan mengatasi kejenuhan siswa dalam menerima pelajaran, sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan pembelajaran dalam menyajikan materi pelajaran berpengaruh pada tingkat pemahaman siswa.

Pendekatan pembelajaran yang diharapkan dapat membuat siswa lebih aktif adalah pendekatan Contextual Taching and Learning (CTL). Pendekatan CTL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkanya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan mereka.

Sedangkan pendekatan inquiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan mememukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang perbedaan efektifitas pendekatan CTL dan pendekatan inquiri dalam pembelajaran matematika.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasikan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Masih rendahnya penguasaan matematika yang mengakibatkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa.

2. Penggunaan pendekatan belajar mengajar yang kurang tepat yang digunakan seorang guru matematika dalam menyampaikan suatu pokok bahasan tertentu kemungkinan akan mempengaruhi prestasi belajar.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih efektif, efisien, terarah dan dapat dikaji lebih mendalam maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan CTL untuk kelas eksperimen dan pendekatan inquiri untuk kelas kontrol

2. Masalah yang diteliti terbatas pada prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri I Gringsing.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan pendekatan CTL dan inquiri?

2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan pendekatan CTL lebih baik dibandingkan dengan yang menggunakan pendekatan inquiri?


E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan CTL dan pendekatan inquiri

2. Mengetahui bahwa pembelajaran CTL lebih baik dari pada pendekatan inquiri dalam pembelajaran matematika.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat atau kegunaan dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini secara umum diharapkan mampu memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika, terutama terhadap peningkatan prestasi belajar matematika siswa. Serta secara khusus penelitian ini memberikan konstribusi pada pendekatan pembelajaran matematika yang berupa pergeseran dari pembelajaran yang hanya mementingkan hasil menuju ke pembelajaran yang juga mementingkan prosesnya.


2. Manfaat Praktis

a. Memberi masukan kepada guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran yang tepat, yang dapat menjadi alternatif lain dalam mata pelajaran matematika khususnya pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama.

b. Memberi sumbangan informasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Pertama.

c. Memberi masukan pada siswa untuk meningkatkan belajarnya, mengoptimalkan kemampuan berpikir positif dalam mengembangkan diri di tengah – tengah lingkungan dalam meraih keberhasilan belajar atau belajar yang optimal.

d. Bahan pertimbangan, pembanding, masukan atau referensi untuk peneliti lebih lanjut.

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari beberapa bagian yaitu sebagai berikut :

1. Bagian Awal

Bagian awal skripsi ini meliputi : halaman judul, abstraksi, halaman pengesahan, motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi.

2. Bagian Isi

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini meliputi uraian masalah yang tercantum dalam judul yang telah dijelaskan meliputi : tinjauan pustaka, kajian teori, kerangka pemikiran, hipotesis tindakan.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang tempat dan waktu penelitian, populasi, sampel dan sampling, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik uji prasyarat analisis, dan teknik analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN

Bab ini berisi tentang pengujian prasyarat analisis, analisis data, pengujian hipotesis, dan pembahasan analisis data.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan, implikasi dan saran.

3. Bagian Akhir

Terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang relevan

Rina Subekti (2004) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan relasi, pemetaan dan grafik antara kelas yang diberi pembelajaran dengan pendekatan kontektual dan kelas yang diberi pembelajaran konvensianal. Prestasi belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual lebih baik daripada dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

Ida Puspa Rahmawati (2004) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar siswa pada topic Sistem Persamaan Linear Dua Peubah ditinjau dari perbedaan penggunaan metode pembelajaran dan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw lebih baik jika dibandingkan dengan yang menggunakan pembelajaran konfensional.

Ari Rosmawati (2007) menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan kreativitas melalui proses pembelajaran matematika dengan pendekatan inquiri dan membawa dampak terhadap peningkatan hasil belajar siswa.

2. Perbedaan penulisan ini dengan yang sudah ada yaitu pendekatan yang digunakan, dalam penelitian ini menggunakan pendekatan CTL dan pendekatan inquiri

Adapun perbedaan antara variabel yang peneliti laksanakan dengan penelitian – penelitian tersebut sebagai berikut:

Tabel 2. 1

Perbedaan Variabel – Variabel Penelitian

Variabel

Penelitian

Konfensional

CTL

kooperatif tipe jigsaw

Inquiri

Prestasi Belajar Matematika

Rina Subekti

ü

ü

ü

Ida Puspa Rahmawati

ü

ü

ü

Ari Rosmawati

ü

ü

ü

Rokhyati Handayani

ü

ü

ü

B. Kajian Teori.

  1. Masalah Belajar

a. Pengertian Belajar

Gagne dalam Hidayat dkk ( 1990 : 2 ), belajar adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap (episode). Episode tersebut terdiri dari informasi, transformasi, dan evaluasi. Informasi menyangkut materi yang akan diajarkan, transformasi berkenaan dengan proses memindahkan materi, dan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan proses yang telah dilakukan oleh pembelajar dan pengajar. Pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran).

Menurut R. Berguis (Slameto, 2003 : 8) bahwa belajar adalah mengatur kemungkinan untuk melakukan transfer tingkah laku dari satu situasi ke situasi yang lain. Belajar disebut produktif bila individu mampu mentransfer prinsip menyelesaikan satu persoalan dalam satu situasi kesituasi lain.

Menurut Witherington (Ngalim Purwanto, 2006: 84) belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.

Bertitik tolak dari berbagai pandangan sejumlah ahli mengenai belajar, para ahli perpendapat berbeda- beda mengenai pengertian belajar, namun baik secara umum diantara mereka terdapat kesamaan maknanya, bahwa belajar selalu menunjukkan kepada “ Suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu”. Hal- hal pokok dalam pengertian belajar adalah belajar itu membawa perubahan tingkah laku karena pengalaman dan latihan, perubahan itu pada pokoknya didapatkannya kecakapan baru, dan perubahan itu terjadi karena usaha yang sengaja.

b. Pengertian Matematika

Menurut Mulyono Adurrahman (1999: 252) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktiknya untuk mengekspresikan hubungan- hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 723), matematika adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antar bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan untuk menyelesaikan masalah mengenai bilangan.

Sedangkan menurut H.W. Fowler dan Pandoyo (1997) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa.

Dari pengertian diatas, matematika sebagai ilmu tentang struktur yang memerlukan simbolisasi, matematika merupakan ilmu tentang bilangan dan hitung menghitung yang menggunakan cara bernalar deduktif dan logis.

c. Prestasi Belajar Matematika

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar atau ilmu murni yang kini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya (Bedi, Junaedi, 1994: 4). Menurut Mulyono (1999: 252) matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh siswa SD sampai SMA bahkan juga Perguruan Tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu murni yang kini telah berkembang pesat baik materi maupun kegunaannya sampai yang diajarkan di SD hingga SMA bahkan Perguruan Tinggi.

Prestasi belajar yang dikemukakan oleh Winarno Surahmad (1982: 23) adalah menilai prestasi belajar bagi kebanyakan orang berarti ulangan dan maksud ulangan tersebut untuk memperoleh satu angka induk dalam menemukan berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam belajar.

d. Faktor- faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar

Dari awal dikembangkannya ilmu pengetahuan, banyak dibahas mengenai bagaimana mencapai hasil belajar yang efektif. Pada pakar di bidang pendidikan mengidentifikasikan faktor- faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar. Dengan diketahui faktor- faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, pada guru dapat memberi intervensi positif untuk meningkatkan hasil belajar yang diinginkan. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar antara lain:

1) Faktor anak

Faktor anak adalah segala sesuatu yang berada di dalam diri anak itu sendiri yang berhubungan dengan kecakapan, kesehatan, minat, kedisiplinan, percaya diri sendiri dan keinginan untuk tahu.

2) Faktor Lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar, karena lingkungan adalah tempat kita bergaul dan berhubungan. Dari hubungan tersebut kita mendapatkan pengalaman yang bisa menimbulkan perubahan- perubahan yang nantinya akan mempengaruhi diri anak

Adapun faktor lingkungan meliputi:

a) Tempat

Tempat untuk belajar diusahakan sendiri, sehingga tidak dipengaruhi oleh orang lain dan perhatiannya dapat berpusat pada bahan yang akan dipengaruhi.

b) Suasana

Suasana belajar diusahakan tidak terlalu gaduh atau ramai agar tidak mengganggu konsentrasi anak.

c) Waktu

Waktu belajar haruslah diatur dan dibagi sebaik- baiknya dan belajar haruslah dilakukan secara teratur dan kontinu.

d) Alat Pembantu Belajar

Alat merupakan sarana penunjang yang tidak dapat diabaikan keberadaannya. Kegiatan belajar tidak akan berjalan baik tanpa ditunjang oleh alat atau sarana pendukung lainnya.

e) Pergaulan

Pergaulan anak akan berpengaruh terhadap proses belajar. Oleh karena itu perlu pengawasan terhadap pergaulan anak.

3) Faktor bahan yang dipelajari

Faktor bahan yang dipelajari haruslah disesuaikan dengan kondisi anak. Misalnya, sebelum memberi materi perkalian maka anak diberi pengertian tentang penjumlahan.

4) Faktor ekonomi

Faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Karena untuk mencapai tujuan belajar perlu perlengkapan. Misalnya berupa alat tulis, buku- buku pelajaran dan lain sebagainya. Jika keadaan ekonomi orang tua rendah, maka perlengkapan belajar anak kurang lengkap. Dengan kurang lengkapnya perlengkapan belajar yang didapatinya, walaupun itu semua dapat diatasi dengan meminjam di perpustakaan atau temannya, tetapi lain dengan anak yang tercukupi perlengkapan belajarnya.

5) Faktor pembawaan

Semua manusia mempunyai potensi- potensi tertentu. Termasuk kemampuan berfikir atau intelegensi setiap individu berbeda atau berlainan. Perbedaan intelegensi akan mempengaruhi prestasi belajar, artinya anak yang mempunyai intelegensi tinggi akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dibandingkan anak yang mempunyai intelegensi rendah. (Margaret E. Bell Gredler, 1994: 4)

6) Metode pembelajaran

Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting.

Adapun metode pembelajaran antara lain:

a) Metode ceramah

Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.

b) Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.

c) Metode diskusi

Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan.

d) Metode simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura- pura atau berbuat seakan- akan. Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.

2. Pendekatan Pembelajaran

Menurut Syaiful Sagala (2006:68), pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran apakah guru akan menjelaskan suatu ajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu ataukah dengan menggunakan materi yang terkait satu dengan yang lainnya dalam tingkat kedalaman yang berbeda atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu.

a. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Saat ini pendekatan kontekstual (CTL) telah berkembang di negara- negara maju dengan berbagai nama. Belanda mengembangkan dengan apa yang disebut Realistic Mathematics Education (RME), di Amerika berkembang dengan apa yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL), dan di Michigan juga berkembang dengan sebutan Connected Mathematics Project (CMP).

Tujuan pendekatan CTL pada dasarnya adalah membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari suatu permasalahan yang lain dan dari suatu konteks ke konteks yang lain (Rusgianto, 2002:23). Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.

1) Tujuh komponen utama dalam pendekatan kontekstual meliputi:

a) Konstruktivisme

Kontruktivisme adalah filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Kontruktivisme dalam belajar merupakan sesuatu yang kompleks dan multidimensi yang jauh melampui berbagai metodologi yang hanya berorientasi pada latihan dan rangsangan tanggapan (stimulus-response). Pembelajaran modern menganjurkan bahwa belajar hanya terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berpikir yang dimilikinya (ingatan, pengalaman dan tanggapan). Secara ilmiah, ketika ada pengalaman baru, pikiran seseorang bekerja untuk menemukan makna pengetahuan baru itu dalam konteks nyata dan bisa terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan bermanfaat.

Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks kesituasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi buka menerima pengetahuan.

b) Tanya jawab

Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Tanya jawab dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong , membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa, kegiatan tanya jawab merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran. Pada semua aktivitas belajar, tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan di kelas.

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis pendekatan CTL. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan tanya jawab berguna untuk:

(1) Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis

(2) Mengecek pemahaman siswa

(3) Membangkitkan respon pada siswa

(4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa

(5) Mengetahui hal- hal yang sudah diketahui siswa

(6) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

(7) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa

(8) Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

c) Inkuiri (menemukan)

Merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan atau konsep atau proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.

d) Komunitas belajar

Komunitas belajar adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, bekerja dengan masyarakat.

Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok besar. Siswa dibagi dalam kelompok- kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajar yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu. “ Komunitas belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam komunitas belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang segan untuk bertanya, semua pihak saling mendengarkan.

e) Pemodelan

Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik

f) Refleksi

Refleksi yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

g) Penilaian otentik (penilaian sebenarnya)

Prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

2) Penerapan Pendekatan Kontekstual (CTL) di Kelas

Penerapan pendekatan kontekstual (CTL) di kelas cukup mudah, dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja termasuk bidang studi matematika. Langkah- langkah penerapan pendekatan kontekstual berkaitan erat dengan tujuh komponen yang telah disebutkan diatas.

Adapun langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:

a) Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya

b) Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik

c) Mengembangkan sifat- sifat ingin tahu siswa dengan bertanya

d) Menciptakan masyarakat belajar

e) Menghindarkan model yang bisa ditiru sebagai contoh pembelajaran

f) Melakukan refleksi di akhir pertemuan

g) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

3) Peranan Guru Dalam Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berusaha dengan pendekatan pembelajaran dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru itu baerupa pengetahuan dan keterampilan datang dari “menemukan sendiri” bukan dari “apa kata guru”. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual (CTL).

4) Pendekatan Kontekstual (CTL) dalam Pembelajaran Matematika.

Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.

Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika pada dasarnya membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata atau pengalaman belajar siswa. Pembelajaran matematika adalah suatu proses dimana pengetahuan yang berupa hasil belajar diciptakan sendiri oleh siswa melaliu transformasi pengalaman siswa sendiri.

Dalam pembelajaran matematika kontekstual (CTL) mempunyai ciri- ciri sebagai berikut:

a) Masalah atau soal- soal berkonteks kehidupan nyata atau kongkret sebagai titik awal proses pembelajaran

b) Dihindari cara mekanistik yang berfokus pada prosedur penyelesaian soal. Pada pembelajaran matematika kontekstual siswa didorong untuk mengajukan suatu cara, alat atau pemodelan matematis sehingga diperoleh pemahaman tentang hal yang dihadapinya

c) Siswa sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran

d) Siswa diberi kesempatan untuk melakukan refleksi. Refleksi adalah berfikir tentang hal- hal yang baru saja dipelajari atau berfikir kebelakang tentang hal- hal yang sudah terjadi

b. Pendekatan Inquiri

Peaget (dalam Mulyasa, 2005 : 108) menyatakan inquiri merupakan teknik yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lainnya. Inquiri sebagai pendekatan pengajaran mengandung arti bahwa dalam proses kegiatan berlangsung mengajar harus dapat mendorong dan dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam belajar.

1) Langkah-langkah pelaksanaan pendekatan inquiri adalah:

a) Mengemukakan permasalahan untuk di inquiri (ditemukan) melalui cerita, film, gambar dan sebagainya, kemudian mengajukan pertanyaan kearah mencari, merumuskan dan memperjelas permasalahan dari cerita atau gambar

b) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa

c) Merumuskan hipotesis (asumsi atau perkiraan yang merupakan jawaban dari permasalahan tersebut)

d) Menguji hipotesis. Guru mengajukan pertanyaan yang bersifat meminta data untuk pembuktian hipotesis

e) Pengambilan kesimpulan. Pengambilan kesimpulan ini dilakukan oleh guru dan siswa.

2) Prinsip- prinsip Penggunaan Pendekatan Inquiri

Dalam penggunaan pendekatan inquiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Prinsip- prinsip tersebut meliputi:

a) Berorientasi pada pengembangan intelektual

Tujuan utama dari pendekatan inquiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikan, pendekatan inquiri selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.

b) Prinsip interaksi

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses inteaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.

c) Prinsip bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pendekatan inquiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inquiri sangat diperlukan.

d) Prinsip belajar untuk berpikir

Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning to think), yakni proses mengembangkan potensiseluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

e) Prinsip keterbukaan

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.

3) Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Inquiri

a) Keunggulan Pendekatan Inquiri

Pendekatan inquiri merupakan pendekatan yang banyak dianjurkan oleh karena pendekatan ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:

(1) Pendekatan inquiri menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui pendekatan inquiri dianggap lebih bermakna

(2) Pendekatan inquiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya mereka

(3) Pendekatan inquiri dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman

(4)Pendekatan inquiri dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata- rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar

b) Kelemahan Pendekatan Inquiri

Disamping memiliki keunggulan, pendekatan inquiri juga mempunyai kelemahan, diantaranya:

(1) Jika pendekatan inquiri digunakan sebagai pendekatan pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa

(2) Pendekatan inquiri sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengankebiasaan siswa dalam belajar

(3) Dalam mengimplementasikan pendekatan inquiri memerlukan waktu yang panjang sehingga guru sering sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan

(4) Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka pendekatan inquiri sulit diimplementasikan oleh setiap guru

3. Pokok Bahasan Lingkaran

a. Lingkaran dan Unsur- Unsur Lingkaran.

1) Pengertian Lingkaran

Lingkaran adalah kumpulan titik- titik pada bidang datar yang mempunyai jarak yang sama terhadap titik tetap. Titik tetap ini disebut titik pusat lingkaran

2) Unsur- Unsur Lingkaran

r

O

D

B

C

A

E

Gambar 2.1

Lingkaran

Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa :

a) AO = OB = r = jari-jari

b) O disebut pusat lingkaran

c) AB adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik pada lingkaran dan melalui O. AB disebut garis tengah atau diameter (d).

d) Daerah yang dibatasi oleh dua buah garis jari-jari OB, OE dan busur lingkaran BE disebut juring.

e) CD disebut tali busur

f) Daerah yang dibatasi oleh tali busur CD disebut tembereng.

b. Keliling Lingkaran

Keliling lingkaran adalah panjang dari seluruh tepi lingkaran. Nilai perbandingan antara keliling dan diameter disebut phi (п).

Jadi п = , (п = 3.14 atau ).

п adalah bilangan irrasional yaitu bilangan yang tidak dapat dinyatakan secara tepat dengan pecahan biasa atau pecahan desimal berulang. Jika pecahan di cari dengan menggunakan kalkulator, maka hasilnya = 3.142857142… untuk perhitungan-perhitungan sampai dua tempat desimal, kita ambil pendekatan nilai п = 3.14 atau п =

Pada sebuah lingkaran, nilai perbandingan antara keliling (K) dengan diameter (d) adalah п. Hubungan tersebut ditulis = п atau K = п.d karena d = 2r maka K = п.2.r atau K = 2. п.r jadi rumus keliling adalah K = 2. п.r atau K = п.d

c. Luas Lingkaran

Luas daerah lingkaran adalah luas daerah yang dibatasi oleh keliling lingkaran. Untuk menentukan rumus luas lingkaran dapat di lakukan dengan menggunakan langkah-langkah berikut ini :

1) Buatlah lingkaran dengan panjang jari-jari r.

2) Bagilah lingkaran tersebut menjadi dua bagian yang sama. Dengan cara membuat diameter (d).

3) Bagilah lingkaran itu menjadi juring-juring dengan besar sudut pusat masing-masing 30o

4) Guntinglah lingkaran tersebut sesuai dengan juring-juring yang terjadi.

5) Letakkan potongan-potongan dari juring tersebut secara berdampingan seperti tampak pada gambar.

b

7

8

9

11

12

10

6

5

4

3

2

a

8

9

10

11

12

a

2

3

4

5

6

7

1

r

Gambar 2.2 Gambar 2.3

Lingkaran Juring- juring lingkaran

Ternyata hasil dari potongan-potongan juring yang diletakkan secara berdampingan membentuk bangun yang menyerupai persegi panjang. Jika juring-juring lingkaran mempunyai sudut lingkaran yang semakin kecil, misalnya 15o, 10o, 5o, 4o, dan seterusnya, maka bangun yang terjadi sangat mendekati bentuk persegi panjang dengan panjang = kali keliling lingkaran =, dan lebar = jari-jari lingkaran (r)

Sehingga :

Luas lingkaran = luas persegi panjang yang terjadi

= panjang lebar

= r

= 2 п.r r

= п r r

= п r 2

Jadi, L = п r2 .

Jika dinyatakan dalam diameternya, maka

L = п r2

, sebab

atau

Untuk setiap lingkaran berlaku rumus berikut :

dengan r = jari-jari, d = diameter, dan П = atau 3,14

C. Kerangka Pemikiran

Dari kajian teori diatas dapat disusun kerangka pemikiran guna memperoleh jawaban sementara atas permasalahan yang timbul. Perolehan nilai yang tertinggi pada sejumlah mata pelajaran diantaranya matematika, namun mereka kurang menerapkan perolehannya, baik berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap kedalam situasi yang lain. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa perlu adanya pendekatan pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan tertentu yang tepat dalam proses belajar mengajar.

Penelitian ini menggunakan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan pendekatan inquiri. Penerapan pendekatan pembelajaran CTL dan inquiri tersebut akan dikaji pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran CTL dalam mengajar siswa akan memahami materi Lingkaran dengan lebih mudah karena keabstrakan matematika menjadi berkurang. Hal ini dikarenakan pendekatan CTL lebih menerapkan ke dalam dunia nyata. Dalam memahami materi lingkaran yang mencakup keliling lingkaran dan luas lingkaran dengan menggunakan pendekatan CTL, siswa dapat menemukan pendekatan nilai п dengan perbandingan keliling lingkaran dan diameter. Siswa juga dapat menemukan sendiri rumus luas lingkaran dengan cara memotong lingkaran menjadi beberapa juring, kemudian meletakkan juring- juring secara berdampingan sehingga akan terbentuk seperti bangun persegi panjang. Sehingga luas lingkaran dapat ditemukan oleh siswa dengan pendekatan luas persegi panjang. Sedangkan dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiri dalam mengajar, siswa akan lebih aktif karena siswa dilibatkan dalam masalah yang harus diselesaikan secara bersama- sama dengan kelompoknya sehingga siswa dapat mengemukakan pendapat-pendapatnya secara bebas. Dengan pendekatan inquiri, dalam memahami materi lingkaran, siswa bersama dengan kelompoknya dapat menemukan sendiri pendekatan nilai п dan rumus luas lingkaran, kemudian hasil dari penemuan dipresentasikan didepan kelas oleh salah satu kelompok dan kelompok yang lain menanggapi, kegiatan terakhir dalam pendekatan inquiri adalah guru bersama siswa membuat kesimpulan.

Perbedaan dari kedua pendekatan tersebut adalah pendekatan CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan situasi dunia nyata. Sedangkan pendekatan inquiri hanya menekankan pada aktivitas siswa untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

Dari kedua pendekatan tersebut, siswa lebih condong untuk dapat mengikuti pelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan CTL. Hal ini disebabkan oleh pendekatan CTL lebih mengaitkan materi pembelajaran dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa.

Pembelajaran dengan pendekatan CTL

Pembelajaran dengan pendekatan inquiri

Prestasi belajar

Berdasarkan pemikiran diatas dapat dijelaskan secara sistematis hubungan antar variabel penelitian yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.2 Paradigma penelitian

D. Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah dugaan sementara yang dianggap dapat dijadikan jawaban dari suatu permasalahan yang timbul. Hipotesis ini disusun derdasarkan teori yang relevan dengan permasalahannya. Dengan kata lain hipotesis merupakan kesimpulan yang nilai kebenarannya masih diuji, melihat permasalahan dan teori yang telah dikemukakan diatas dapat penulis rumuskan hipotesis yaitu:

1. Terdapat perbedaan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Lingkaran ditinjau dari perbedaan penggunaan pendekatan pembelajaran

2. Prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran dengan pendekatan CTL lebih baik dibanding siswa yang menggunakan pembelajaran dengan pendekatan inquiri.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Sekolah yang dipilih untuk dijadikan tempat penelitian ini adalah SMP Negeri I Gringsing tahun ajaran 2008/2009. Lokasi SMP tempat penelitian sangat strategis karena terletak di jalan raya yang mudah dijangkau dengan kendaraan umum.

2. Waktu Penelitian

Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009.

B. Populasi, Sampel dan Sampling

  1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan aspek penelitian (Arikunto, 2007:130). Menurut Budiyono (2000: 119), populasi adalah keseluruhan pengamatan yang ingin diteliti, berhingga atau tak berhingga. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri I Gringsing.


  1. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diamati (Budiyono, 2000: 119). Menurut Suhassini Arikunto (2002:109) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Hal ini mengandung pengertian bahwa sampel merupakan kelompok kecil yang diambil dari populasi untuk diamati dan diteliti. Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah sebagian siswa kelas VIII SMP Negeri I Gringsing, yaitu diambil dua kelas dari lima kelas yang ada. Kelas VIII A sebagai kelas eksperimen yaitu dengan menggunakan pendekatan CTL, sedangkan kelas VIII B sebagai kelas kontrol yaitu dengan menggunakan pendekatan inquiri.

  1. Sampling

Sampling adalah teknik yang digunakan untuk menentukan sampel. (Sutrisno Hadi, 1990:75). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik sampling kelompok (simple cluster sampling) yaitu pengambilan sampel dari populasi yang terdiri atas M kelompok. Kelompok yang dimaksud adalah semua kelas VIII yang sudah ditentukan berdasarkan ketentuan sekolah. Dilakukan sebagai berikut:

a. Pilih secara acak M kelompok

b. Dari tiap kelompok yang dipilih, diambil secara acak sampel berukuran (Sutawanir Darwis, 1986 : 31)

Melalui teknik ini diambil dua kelas yaitu kelas VIIIA sebagai kelas sampel eksperimen dan kelas VIIIB sebagai sampel kontrol.

Sebelum menghitung data hasil penelitian, selain memeriksa normalitas dan homogenitas, perlu juga diadakan uji varian matching mengingat sampel yang diteliti berasal dari dua kelas yang berbeda yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji varian matching bertujuan untuk menentukan kondisi keseimbangan kemampuan awal siswa. Uji yang digunaka adalah uji F dengan rumus:

Dimana:

= Variansi terbesar

= Variansi terkecil

(Sudjana, 2002: 250)

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variael bebas dan variabel terikat

1. Variabel Bebas ( Predicator)

a. Definisi Operasional : perlakuan yang dimaksud adalah perlakuan pada kelas eksperimen menggunakan pendekatan CTL, sedangkan kelas kontrol menggunakan pendekatan inquiri.

b. Indikator : penggunaan pendekatan CTL dan inquiri


2. Variabel Terikat ( Kriterium)

a. Definisi Operasional : variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam bentuk nilai tes dan tes diberikan setelah ada perlakuan.

b. Indikator : skor yang diperoleh dari tes akhir pembelajaran dengan pendekatan CTL dan pembelajaran dengan pendektan inquri.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam usaha memperoleh data yang diharapkan, peneliti menggunakan dua metode yaitu metode pokok dan metode bantu.

  1. Metode Pokok

Metode dalam penelitian ini adalah metode tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan lain yang dipergunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 2001: 127). Dalam menggunakan metode tes penelitian ini menggunakan instrumen berupa tes atau soal tes. Di akhir pertemuan setelah dilaksanakannya kegiatan pembelajara dilakukan tes formatif. Skor yang diperoleh dari tes ini akan dijadikan data prestasi belajar matematika untuk kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Untuk memenuhi validitas dan reliabilitas soal maka dicari validitas dan reliabilitas soal tersebut.


a. Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2001: 144). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang di inginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Untuk menguji validitas, peneliti menggunakan rumus korelasi produk moment sebagai berikut:

Dimana:

= koefisien korelasi skor item dengan skor total

N = jumlah subjek

X = skor item

Y = skor total

Kriteria Uji Validitas

1) Jika tabel maka soal tersebut valid

2) Jika tabel maka soal tersebut tadak valid

(Suharsimi Arikunto, 2001: 72)

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas tes adalah ketetapan atau tingkat kepercayaan terhadap tes. Suatu tes mempunyai reliabilitas yang baik jika tes digunakan pada objek yang berlainan sehingga menunjukkan hasil yang relatif sama.

Pada penelitian ini uji reliabilitas menggunakan rumus KR-20 sebagai berikut:

Dimana:

= Reliabilitas tes secara keseluruhan

p = Proporsi banyaknya subjek yang menjawab item dengan

benar

q = Proporsi banyaknya subjek yang menjawab item dengan

salah

= Jumlah hasil perkalian antara p dan q

n = Banyaknya item

S = Standar deviasi dari tes (Standar deviasi adalah akar varians)

Apabila tabel maka soal tersebut reliabel. Sebaliknya apabia tabel maka soal tersebut tidak reliabel.

(Suharsimi Arikunto, 2001: 100)

  1. Metode Bantu

Metode bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode observasi:

a. Metode dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata “dokumen” yang artinya barang- barang tertulis. Dalam hal ini yang dimaksud barang- barang tertulis adalah buku- buku, majalah, peraturan- peraturan, catatan harian dan seagainya (Suharsimi Arikunto, 2001: 135). Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data nama siswa dan nilai hasil belajar siswa.

b. Metode observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, mengenai fenomena sosial dengan gejala- gejala psikis kemudian dilakukan pencatatan. Metode observasi ini penulis gunakan untuk mengamati jalannya tes yang dilakukan dan guna mendukung tercapainya data- data variabel yang diperoleh dari tes tersebut.

E. Teknik Uji Prasyarat Analisis

Hipotesis dalam penelitian ini dianalisis dengan uji t oleh karena itu perlu dipenuhi uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas berfungsi untuk mengetahui sampel yang berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

Dalam uji normalitas ini penulis menggunakan uji liliefor yaitu:

a. Hipotesis

: sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

: sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal

b. Taraf signifikan α = 5%

c. Statistik uji

L= Maks|F()- S()| ; L = koefisien Lilio Fors dari pengamatan

Dimana:

Z ~ N (0,1)

= skor standar,

S() = proporsi cacah Z ≤ terhadap seluruh cacah

d. Daerah kritik

, dengan n adalah ukuran sampel

e. Keputusan uji

ditolak jika atau diterima jika

(Budiyono, 2000: 169)

2. Uji Homogenitas

Prosedur uji homogenitas populasi dengan uji Bartlett adalah sebagai berikut:

a. Hipotesis

= Populasi homogen

= Populasi tidak homogen

b. Statistik Uji

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah variansi populasi data homogen. Dalam hal ini peneliti menggunakan rumus Bartlett sebagai berikut:

Dengan:

~ (k-1)

k = Banyaknya populasi (banyaknya sampel)

= Derajat kebebasan untuk RKG = N – k

=Derajat kebebasan untuk

j = 1,2,3,…k

N = Banyaknya seluruh nilai (ukuran)

= Banyaknya nilai (ukuran) sampel ke-j

c. Daerah Kritik

d. Kesimpulan Uji

ditolak jika atau diterima jika

(Budiyono, 2000: 176)

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa data hasil penelitian dalam rangka untuk membuktikan hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya. Setelah diketahui data tersebut normal dan homogen maka langkah selanjutnya adalah menghitung adta dengan rumus t- test. (Sudjana, 2002:239), yaitu:

Dengan:

Dimana:

t = Distribusi t untuk uji hipotesis

= Nilai rata- rata dari kelas eksperimen

= Nilai rata- rata dari kelas kontrol

= Standar deviasi untuk kelas eksperimen

= Standar deviasi untuk kelas kontrol

= Cacah anggota sampel kelas eksperimen

= Cacah anggota sampel kelas kontrol

= Variansi gabungan

Dengan kriteria pengujian yang berlaku adalah diterima jika < ,dimana didapat dari tabel nilai t dengan derajat kebebesan

(Budiyono, 2000: 149)


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Budiyono. 2000.Statistik Dasar Untuk Penelitian. Surakarta: UNS.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Kartikasari, Noviana. 2007. Perbedaan Prestasi Belajar Matematika Pada Pokok Bahasan Bangun Datar Antara Siswa Yang Menggunakan CTL dan Ekspositori siswa kelas 1 SMP N 3 Punggelan Banjarnegara . Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Diterbitkan).

Purwodarminto. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Retnowati, Budi Sholikah. 2006. Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Teknik Inquiry Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Komunikasi Matematika Siswa. Skripsi, Surakarta: UMS (Tidak Diterbitkan).

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung : Kencana

Sudjana. 2002. Metode Statistik. Bandung : Tarsito.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Widdiharto, Rachmadi. 2004. Model – Model Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta : PPPG Matematika

http://www.wikipedia.org/


Usulan Penelitian

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN LINGKARAN DENGAN MENGGUNAKAN

PENDEKATAN CTL DAN PENDEKATAN INQUIRI

PADA SISWA KELAS VIII SMP N I GRINGSING

Diajukan oleh :

ROKHYATI HANDAYANI

A 410 050 225

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Prof. Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom

Tanggal :

Pembimbing II

Dra. Sri Sutarni, M.Pd

Tanggal :

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: